Aku adalah seorang pedagang. Dan tentu saja para pembeli serta calon pembeliku menamaiku penjual. Sistem yang aku terapkan adalah sistem umum yang sudah ada sejak berabad tahun yang lalu. Dahulu di kenal dengan barter namun sekarang kita lebih mengenalnya dengan istilah jual dan beli.
Seperti yang sudah kita tahu, jika ada penjual pasti ada pembeli, ada uang ada barang, ada serah dan ada terima. Dan ini berlaku untuk barang apapun, berapun harganya tidak akan masalah bagi siapapun jika sudah menyepakati perjanjian jual dan beli ini. Aku sudah lama berdagang. Mungkin sudah belasan tahun, turun temurun dari ibuku, dan ibuku turun temurun dari neneku. Begitupula dengan neneku yang di turunkan dari buyutku. Dan aku adalah generasi ke 4 yang dengan senang hati meneruskan pekerjaan ibuku ini.
Daganganku murah, sangat murah, mungkin jika dari uangmu yang hanya dapat membeli satu permen, maka jika kau membeli padaku, kau tidak hanya mendapatkan satu, kau akan mendapatkan satu untuk pesananmu dan beberapa lagi sebagai bonus yang akan kau terima setelah merasakan efek pesananmu itu.
Tokoku tidaklah sebesar mal- mal yang menghabiskan beratus meter tanah ataupun sebesar apartemen elit yang berada di dekat rumahku atau di dekat rumahmu. Aku tahu,apartemen itu telah dikutuk oleh tanah ibu dan anak-anaknya. Buktinya gedung- gedung itu membuat banyak orang menjadi robot- robot pendengus yang sudah kita anut. Dan dari situ, Tuhan telah berubah nama tidak lagi Tuhan namun menjadi Tuan. Tokoku sangatlah kecil, lebih kecil dari zarah yang tidak akan pernah kau lihat dengan mata telanjang. Namun sebenarnya sangat besar, nyaman, teduh dan damai.
Setiap hari apa yang aku jual selalu habis. Tak pernah tersisa sedikitpun. Padahal yang aku jual sangatlah banyak. Kau mau melihat daftarnya? Bisa aku tuliskan untukmu secara singkat apa yang aku jual. Tapi..., sepertinya aku tidak jadi untuk membiarkanmu tahu dengan begitu mudah. Daganganku memang sangat murah, lebih murah dari permen lollipop pembelianmu dari toko Willy Wonka. Walaupun sangat murah namun daganganku tidaklah murahan, tidak pula pasaran, atau buat-buatan. Demi apapun, apa yang aku jual sangatlah murni. Tidak ada cacat sedikitpun. Karenanya akan terlalu berharga jika aku memberitahukanmu dengan begitu mudah. Itu bagimu yang tidak merasakanya. Jika kau tidak merasakanya, maka kau tidak akan bisa datang dan menemukan tokoku di dunia. Lagipula apa yang aku jual disini adalah sesuatu yang akan membuat kau bernafas. Bisa pula sesak, tergantung cerdiknya kau memilih. Karena apa yang kau ambil adalah keinginan dari yang kau beli. Kau memanggilnya, maka iapun memanggilmu, ia yang memanggilmu untuk di beli, atau kau yang menerima tawaran dari barang daganganku ini. Karena kalianlah yang saling memanggil diri. Juga kau yang menginginkanya dan dia juga menginginkanmu. Senang hati akan aku berikan dia padamu. Tapi ingatlah, apa yang sudah kau beli harus kau jaga dengan baik. Tidak perlu bunga tujuh rupa ataupun sesaji untuk membuatnya tetap terjaga. Cukup letakan saja di dalam hatimu. Karena disanalah dia hidup. Bernafas. Dan melahirkan sesuatu. Dan jika kau kembali mencarinya atau mencari yang lain, maka datanglah kembali ke tokoku. Dan bayarlah dengan hatimu.
Minggu, 04 Desember 2011
Selasa, 24 Mei 2011
Senin, 23 Mei 2011
PERSOCON
23 mei 2011
20:24
PERSOCON
Pagi hari,
suasana sangat hening di sebuah rumah yang sangat besar. Terlalu besar hingga kau dapat memasukan beberapa gajah ataupun jerapah kedalamnya, seperti kapal Nabi Nuh yang menyelamatkan manusia dan binatang saat bandang datang berjuta tahun yang lalu. Lalu jika kau melangkah dengan sepatu berhak tinggi maka suaranya akan menggema hingga kesemua sudut rumah. Dan siapapun akan mendengar langkahmu mendekat ataupun menjauh dari rumah yang seperti istana itu. Kau juga dapat merasakan dingin yang sangat, tenang saja, tidak akan membunuhmu, hanya akan membuatmu menggigil walau sudah memakai pakaian berlapis Sembilan sekalipun.
Rumah sudah mulai ramai, pelayan – pelayan perempuan bertubuh besi memakai pakaian pelayan mulai sibuk mengerjakan berbagai pekerjaan rumah tangga. Ada yang membersihkan kaca, mengepel, memasak, membersihkan tempat tidur ataupun memasak, suasana sibuk sudah terlihat. Namun hening…, yang terdengar hanya suara dentingan wajan, dengungan mesin penyedot debu, aliran air, atau ketokan langkah dari si tubuh besi ini.
di sebuah meja makan yang terbuat dari marmer dengan panjang 3meter sudah terhidang makanan yang begitu lezat dari ujung hingga ke ujung meja, pelayan bertubuh besi ini pun masih datang untuk menaruh menu-menu makanan di atas meja hingga penuh. Seorang lelaki muda berumur sekitar 30an berparas gagah memakai setelan jas mahal duduk di ujung meja sambil memandang ke depan dengan mata berbinar dan senyum mempesona. Dilihatnya seorang yang sudah duduk di ujung meja hadapanya. Terlihat di jari lelaki itu melingkar sebuah cincin emas putih, pun dengan si perempuan.
Si lelaki : apakabar malamu?
Si perempuan : baik sekali
Si lelak : apa kau tidur dengan nyenyak?
Si perempuan : tentu saja ( sambil tersenyum )
Si lelaki : aku ingin mengajakmu keluar hari ini
Si perempuan : baik
Si lelaki : baiklah, setelah ini kau bersiap-siaplah
Si perempuan : baik
Siang hari,
suasana sangat hening di sebuah rumah yang sangat besar. Terlalu besar hingga kau dapat memasukan beberapa gajah ataupun jerapah kedalamnya, seperti kapal Nabi Nuh yang menyelamatkan manusia dan binatang saat bandang datang berjuta tahun yang lalu. Lalu jika kau melangkah dengan sepatu berhak tinggi maka suaranya akan menggema hingga kesemua sudut rumah. Dan siapun akan mendengar langkahmu mendekat ataupun menjauh dari rumah yang seperti istana itu. Kau juga dapat merasakan dingin yang sangat, tenang saja, tidak akan membunuhmu, hanya akan membuat kau menggigil walau sudah memakai pakaian berlapis Sembilan sekalipun.
Rumah sudah mulai ramai, pelayan – pelayan bertubuh besi memakai pakaian maide mulai sibuk mengerjakan berbagai pekerjaan rumah tangga. Ada yang membersihkan kaca, mengepel, memasak, membersihkan tempat tidur ataupun memasak, suasana sibuk sudah terlihat. Namun hening…, yang terdengar hanya suara dentingan wajan, dengungan mesin penyedot debu, aliran air, atau ketokan langkah dari si tubuh besi ini.
di sebuah meja makan yang terbuat dari marmer dengan panjang 3meter sudah terhidang makanan yang begitu lezat dai ujung hingga ke ujung meja, pelayan bertubuh besi ini pun masih datang untuk menaruh menu-menu makanan di atas meja hingga penuh. Seorang lelaki muda berumur sekitar 30an berparas gaga memakai setelan jas mahal duduk di ujung meja sambil memandang ke depan dengan mata berbinar dan senyum mempesona. Dilihatnya seorang yang sudah duduk di ujung meja hadapanya. Terlihat di jari lelaki itu melingkar sebuha cincin emas putih, pun dengan si perempuan.
Si lelaki : apa kamu sudah siap?
Si perempuan : iya
Si lelak : baiklah, kita akan berangkat setelah makan
Si perempuan : baik
Di malam hari
suasana sangat hening di sebuah rumah yang sangat besar. Terlalu besar hingga kau dapat memasukan beberapa gajah ataupun jerapah kedalamnya, seperti kapal Nabi Nuh yang menyelamatkan manusia dan binatang saat bandang datang berjuta tahun yang lalu. Lalu jika kau melangkah dengan sepatu berhak tinggi maka suaranya akan menggema hingga kesemua sudut rumah. Dan siapun akan mendengar langkahmu mendekat ataupun menjauh dari rumah yang seperti istana itu. Kau juga dapat merasakan dingin yang sangat, tenang saja, tidak akan membunuhmu, hanya akan membuat kau menggigil walau sudah memakai pakaian berlapis Sembilan sekalipun.
Rumah sudah mulai ramai, pelayan – pelayan bertubuh besi memakai pakaian maide mulai sibuk mengerjakan berbagai pekerjaan rumah tangga. Ada yang membersihkan kaca, mengepel, memasak, membersihkan tempat tidur ataupun memasak, suasana sibuk sudah terlihat. Namun hening…, yang terdengar hanya suara dentingan wajan, dengungan mesin penyedot debu, aliran air, atau ketokan langkah dari si tubuh besi ini.
di sebuah meja makan yang terbuat dari marmer dengan panjang 3meter sudah terhidang makanan yang begitu lezat dai ujung hingga ke ujung meja, pelayan bertubuh besi ini pun masih datang untuk menaruh menu-menu makanan di atas meja hingga penuh. Seorang lelaki muda berumur sekitar 30an berparas gaga memakai setelan jas mahal duduk di ujung meja sambil memandang ke depan dengan mata berbinar dan senyum mempesona. Dilihatnya seorang yang sudah duduk di ujung meja hadapanya. Terlihat di jari lelaki itu melingkar sebuha cincin emas putih, pun dengan si perempuan.
Si lelaki : bagaimana hari ini?
Si perempuan : baik
Si lelak : apa kau senang?
Si perempuan : tentu saja ( sambil tersenyum )
Si lelaki : aku senang mendengarnya. Apakah kau besok mau pergi lagi denganku?
Si perempuan : mau
Si lelaki : baiklah, besok kita akan pergi beberapa hari, jadi siapkan pakaianmu
Si perempuan : baik
Si lelaki hanya tersenyum melihat si perempuan berbadan besi di balut gaun merah yang berkerah V. bibirnya terpoles gincu merah merekah, mengkilat seperti tubuhnya. Si perempuan hanya duduk diam sambil memandangi si lelaki yang sedang lahap memakan santapan malam.
20:24
PERSOCON
Pagi hari,
suasana sangat hening di sebuah rumah yang sangat besar. Terlalu besar hingga kau dapat memasukan beberapa gajah ataupun jerapah kedalamnya, seperti kapal Nabi Nuh yang menyelamatkan manusia dan binatang saat bandang datang berjuta tahun yang lalu. Lalu jika kau melangkah dengan sepatu berhak tinggi maka suaranya akan menggema hingga kesemua sudut rumah. Dan siapapun akan mendengar langkahmu mendekat ataupun menjauh dari rumah yang seperti istana itu. Kau juga dapat merasakan dingin yang sangat, tenang saja, tidak akan membunuhmu, hanya akan membuatmu menggigil walau sudah memakai pakaian berlapis Sembilan sekalipun.
Rumah sudah mulai ramai, pelayan – pelayan perempuan bertubuh besi memakai pakaian pelayan mulai sibuk mengerjakan berbagai pekerjaan rumah tangga. Ada yang membersihkan kaca, mengepel, memasak, membersihkan tempat tidur ataupun memasak, suasana sibuk sudah terlihat. Namun hening…, yang terdengar hanya suara dentingan wajan, dengungan mesin penyedot debu, aliran air, atau ketokan langkah dari si tubuh besi ini.
di sebuah meja makan yang terbuat dari marmer dengan panjang 3meter sudah terhidang makanan yang begitu lezat dari ujung hingga ke ujung meja, pelayan bertubuh besi ini pun masih datang untuk menaruh menu-menu makanan di atas meja hingga penuh. Seorang lelaki muda berumur sekitar 30an berparas gagah memakai setelan jas mahal duduk di ujung meja sambil memandang ke depan dengan mata berbinar dan senyum mempesona. Dilihatnya seorang yang sudah duduk di ujung meja hadapanya. Terlihat di jari lelaki itu melingkar sebuah cincin emas putih, pun dengan si perempuan.
Si lelaki : apakabar malamu?
Si perempuan : baik sekali
Si lelak : apa kau tidur dengan nyenyak?
Si perempuan : tentu saja ( sambil tersenyum )
Si lelaki : aku ingin mengajakmu keluar hari ini
Si perempuan : baik
Si lelaki : baiklah, setelah ini kau bersiap-siaplah
Si perempuan : baik
Siang hari,
suasana sangat hening di sebuah rumah yang sangat besar. Terlalu besar hingga kau dapat memasukan beberapa gajah ataupun jerapah kedalamnya, seperti kapal Nabi Nuh yang menyelamatkan manusia dan binatang saat bandang datang berjuta tahun yang lalu. Lalu jika kau melangkah dengan sepatu berhak tinggi maka suaranya akan menggema hingga kesemua sudut rumah. Dan siapun akan mendengar langkahmu mendekat ataupun menjauh dari rumah yang seperti istana itu. Kau juga dapat merasakan dingin yang sangat, tenang saja, tidak akan membunuhmu, hanya akan membuat kau menggigil walau sudah memakai pakaian berlapis Sembilan sekalipun.
Rumah sudah mulai ramai, pelayan – pelayan bertubuh besi memakai pakaian maide mulai sibuk mengerjakan berbagai pekerjaan rumah tangga. Ada yang membersihkan kaca, mengepel, memasak, membersihkan tempat tidur ataupun memasak, suasana sibuk sudah terlihat. Namun hening…, yang terdengar hanya suara dentingan wajan, dengungan mesin penyedot debu, aliran air, atau ketokan langkah dari si tubuh besi ini.
di sebuah meja makan yang terbuat dari marmer dengan panjang 3meter sudah terhidang makanan yang begitu lezat dai ujung hingga ke ujung meja, pelayan bertubuh besi ini pun masih datang untuk menaruh menu-menu makanan di atas meja hingga penuh. Seorang lelaki muda berumur sekitar 30an berparas gaga memakai setelan jas mahal duduk di ujung meja sambil memandang ke depan dengan mata berbinar dan senyum mempesona. Dilihatnya seorang yang sudah duduk di ujung meja hadapanya. Terlihat di jari lelaki itu melingkar sebuha cincin emas putih, pun dengan si perempuan.
Si lelaki : apa kamu sudah siap?
Si perempuan : iya
Si lelak : baiklah, kita akan berangkat setelah makan
Si perempuan : baik
Di malam hari
suasana sangat hening di sebuah rumah yang sangat besar. Terlalu besar hingga kau dapat memasukan beberapa gajah ataupun jerapah kedalamnya, seperti kapal Nabi Nuh yang menyelamatkan manusia dan binatang saat bandang datang berjuta tahun yang lalu. Lalu jika kau melangkah dengan sepatu berhak tinggi maka suaranya akan menggema hingga kesemua sudut rumah. Dan siapun akan mendengar langkahmu mendekat ataupun menjauh dari rumah yang seperti istana itu. Kau juga dapat merasakan dingin yang sangat, tenang saja, tidak akan membunuhmu, hanya akan membuat kau menggigil walau sudah memakai pakaian berlapis Sembilan sekalipun.
Rumah sudah mulai ramai, pelayan – pelayan bertubuh besi memakai pakaian maide mulai sibuk mengerjakan berbagai pekerjaan rumah tangga. Ada yang membersihkan kaca, mengepel, memasak, membersihkan tempat tidur ataupun memasak, suasana sibuk sudah terlihat. Namun hening…, yang terdengar hanya suara dentingan wajan, dengungan mesin penyedot debu, aliran air, atau ketokan langkah dari si tubuh besi ini.
di sebuah meja makan yang terbuat dari marmer dengan panjang 3meter sudah terhidang makanan yang begitu lezat dai ujung hingga ke ujung meja, pelayan bertubuh besi ini pun masih datang untuk menaruh menu-menu makanan di atas meja hingga penuh. Seorang lelaki muda berumur sekitar 30an berparas gaga memakai setelan jas mahal duduk di ujung meja sambil memandang ke depan dengan mata berbinar dan senyum mempesona. Dilihatnya seorang yang sudah duduk di ujung meja hadapanya. Terlihat di jari lelaki itu melingkar sebuha cincin emas putih, pun dengan si perempuan.
Si lelaki : bagaimana hari ini?
Si perempuan : baik
Si lelak : apa kau senang?
Si perempuan : tentu saja ( sambil tersenyum )
Si lelaki : aku senang mendengarnya. Apakah kau besok mau pergi lagi denganku?
Si perempuan : mau
Si lelaki : baiklah, besok kita akan pergi beberapa hari, jadi siapkan pakaianmu
Si perempuan : baik
Si lelaki hanya tersenyum melihat si perempuan berbadan besi di balut gaun merah yang berkerah V. bibirnya terpoles gincu merah merekah, mengkilat seperti tubuhnya. Si perempuan hanya duduk diam sambil memandangi si lelaki yang sedang lahap memakan santapan malam.
SISA HIDUP
23 Mei 2011,
20.19
SISA HIDUP
Seorang perempuan tengah duduk di sebuah kursi goyang tua yang sudah renta. Serenta tubuhnya yang saat ini mungkin sudah berumur lebih dari 80an. Panggil saja namanya Nenek. Nenek ini menutupi badanya dengan selimut yang cukup tebal, kacamatanya ia benarkan dari posisinya yang turun. Suara cicit burung sudah menyahut sedari tadi hingga pagi hari yang begitu hening di kamar Nenek menjadi riuh hingga membuat mata terbuka. Dari jendela terlihat pepohonan remang karena kabut yang masih memutih. Putihnya seputih susu yang di tabur di hamparan sana. Nenek menggoyang-goyangkan kursinya pelan. Matanya masih memandangi kabut susu dari jendelanya yang terbuka lebar. Iapun bergumam. Dengan suaranya yang lirih dan gemetar. Sebuah puisi irama yang pernah di berikan kepadanya.
“Kupandang laut semu, tak bergaris
Ku dengar riuh angin tetap tak bernyawa, bahkan senyawa
Mati tak ada rasa
Kosong
Seperti tanah dari batas daratan yang mengubur raga
Gelap dan sunyi
Ceria itu telah hilang
Mawar kerontang
Apa salahku?
Tak di jawab angin
Awan masih biru ternyata abu-abu
Sudahlah
Aku menyerah namun tetap bertanya-tanya
Kemana bumi, namun tanah masih ada
Basah dan fana
Aku sang debu yang berterbangan di atas tanah
Ada air aku tak basah
Karena tanah aku menyerah”
Si Nenek tersenyum lembut, sehingga kerutan di wajahnya terkumpul seperti kumpulan lemak yang berlipat. Tersenyum, tersenyum lalu sedikit demi sedikit air matanya telah jatuh. Mengalir di keriput wajahnya hingga basah. Namun Nenek masih saja terus menangis memandangi kabut susu sambil terus bergumam akan syairnya.
20.19
SISA HIDUP
Seorang perempuan tengah duduk di sebuah kursi goyang tua yang sudah renta. Serenta tubuhnya yang saat ini mungkin sudah berumur lebih dari 80an. Panggil saja namanya Nenek. Nenek ini menutupi badanya dengan selimut yang cukup tebal, kacamatanya ia benarkan dari posisinya yang turun. Suara cicit burung sudah menyahut sedari tadi hingga pagi hari yang begitu hening di kamar Nenek menjadi riuh hingga membuat mata terbuka. Dari jendela terlihat pepohonan remang karena kabut yang masih memutih. Putihnya seputih susu yang di tabur di hamparan sana. Nenek menggoyang-goyangkan kursinya pelan. Matanya masih memandangi kabut susu dari jendelanya yang terbuka lebar. Iapun bergumam. Dengan suaranya yang lirih dan gemetar. Sebuah puisi irama yang pernah di berikan kepadanya.
“Kupandang laut semu, tak bergaris
Ku dengar riuh angin tetap tak bernyawa, bahkan senyawa
Mati tak ada rasa
Kosong
Seperti tanah dari batas daratan yang mengubur raga
Gelap dan sunyi
Ceria itu telah hilang
Mawar kerontang
Apa salahku?
Tak di jawab angin
Awan masih biru ternyata abu-abu
Sudahlah
Aku menyerah namun tetap bertanya-tanya
Kemana bumi, namun tanah masih ada
Basah dan fana
Aku sang debu yang berterbangan di atas tanah
Ada air aku tak basah
Karena tanah aku menyerah”
Si Nenek tersenyum lembut, sehingga kerutan di wajahnya terkumpul seperti kumpulan lemak yang berlipat. Tersenyum, tersenyum lalu sedikit demi sedikit air matanya telah jatuh. Mengalir di keriput wajahnya hingga basah. Namun Nenek masih saja terus menangis memandangi kabut susu sambil terus bergumam akan syairnya.
Jumat, 06 Mei 2011
sampah
7 mei 2011
1:18
aku ini sampah
siapa yang perduli
tergeletak di pinggir jalan tanpa sandang
aku ini hanya angin
pergi seenaknya
lalu datangpun seenaknya
lalu siapa yang akan perduli?
tentang aku ada
atau tentang aku tidak ada
sama saja
karena memang aku tidak pernah ada
1:18
aku ini sampah
siapa yang perduli
tergeletak di pinggir jalan tanpa sandang
aku ini hanya angin
pergi seenaknya
lalu datangpun seenaknya
lalu siapa yang akan perduli?
tentang aku ada
atau tentang aku tidak ada
sama saja
karena memang aku tidak pernah ada
Rabu, 04 Mei 2011
Lekat
4 mei 2011
06:23
Tuhan menciptakanku. Sebagai manusia dengan otak yang sempurna.
Menciptakanku berpasangan dengan kedua bola mataku
Menciptakanku berpasangan dengan kedua telingaku dan hidungku
Menciptakanku dengan sepasang tangan dan kakiku
Lalu, Tuhan juga menciptakan hati untukku
Menciptakan rasa untuk aku sentuh
Dan saat menyentuhnya
Aku terbuai
Aku terlah terpesona
Dan jatuh cinta
Dengan segala hal dari pemberianya
Hingga aku melekat
Rekat
Rekat
Rekat
Dan aku tidak dapat untuk melepasnya
Terjerat
Hingga mati
Hingga melekat
Tidak dapat mlatikan diri
Darinya..
06:23
Tuhan menciptakanku. Sebagai manusia dengan otak yang sempurna.
Menciptakanku berpasangan dengan kedua bola mataku
Menciptakanku berpasangan dengan kedua telingaku dan hidungku
Menciptakanku dengan sepasang tangan dan kakiku
Lalu, Tuhan juga menciptakan hati untukku
Menciptakan rasa untuk aku sentuh
Dan saat menyentuhnya
Aku terbuai
Aku terlah terpesona
Dan jatuh cinta
Dengan segala hal dari pemberianya
Hingga aku melekat
Rekat
Rekat
Rekat
Dan aku tidak dapat untuk melepasnya
Terjerat
Hingga mati
Hingga melekat
Tidak dapat mlatikan diri
Darinya..
Minggu, 01 Mei 2011
TUAN LALU DAN TUAN KATA
TUAN LALU DAN TUAN KATA
TUAN LALU
menjadikan saya putri pun menjadikanku sampah
Menjatuhkan saya hingga terjun bebas dan berbuah trauma akan indahnya berdua
Hati
Ya, hati untuknya hingga sampai saat ini saya persembahkan
Selembut sutra
Setipis kain putih yang membentang
Sungguh
Terimakasih atas lalu yang sangat indah dan penuh air mata
- Ada hal –hal yang langsung di ungkapkan
Ada hal-hal yang harus di tunda untuk di ungkapkan
Ada hal-hal yang tidak akan pernah di ungkapkan.
- When I look into your eyes
And I look my soul fall down in your love
Oh my darling…
- Hikayat cinta dalam balutan kerinduan
Hangat membasuh senyuman insan yang tenggelam di dalamnya
Embun-embun kasih lahr dan menguap begitu cepat
Seakan menjadi bayangan palsu dalam baying pagi
Andai saja aku punya lebih banyak mimpi
Ingin ku lanjutkan mimpi ini
- Surrender. Faith. Trust. Joyful. Reborn. Beras.
- Beberapa orang mencari penghargaan dan pengakuan
Sisanya hanya member dan melakukan yang terbaik
TUAN KATA
Ia selalu ada
Saat saya jatuh saat saya terbang
Ia hanya mempersembahkan “kata”
Mempersembahkan nyawanya untuk saya
Hanya dengan “kata”
- 19 september 2010
18:50:52
Warna abu-abu kedinginanya pengaruh sama cuaca debu bannyak gitu.
- Vanila….
Jangan meleleh tubuhmu
- Bilangan yang belum aku sentuh menjadi notasi kata yang tak pernah ku jamah
Kan kusimpan dalma benak dank u kembalikan untuk tak retak
( 25 oktober 2010. 18:20:11 )
- Kupandang laut semu, tak bergaris
Ku dengar riuh angin tetap tak bernyawa, bahkan senyawa
Mati tak ada rasa
Kosong
Seperti tanah dari batas daratan yang mengubur raga
Gelap dan sunyi
Ceria itu telah hilang
Mawar kerontang
Apa salahku?
Tak di jawab angin
Awan masih biru ternyata abu-abu
Sudahlah
Aku menyerah namun tetap bertanya-tanya
Kemana bumi, namun tanah masih ada
Basah dan fana
Aku sang debu yang berterbangan di atas tanah
Ada air aku tak basah
Karena tanah aku menyerah
( 28 maret 2011, 20:36:29 )
- Angin? Denggam dengan rasa
Angin?
Sayu menjadi badai
Angin?
Bermuara tanpa arah seperti debu
Berangin ringan mengedip mata
( 29 maret 2011, 16:04:37 )
- Serabut keajaiban yang tumbuh dari tanah
( 31 maret 2011, 22:05:19 )
- Artikan mawar itu sebagai symbol persahabatan utuh
Di balik ribuan makna lainya
( 31 maret 2011, 23:29:27 )
- Gw suka sama lu
Simpan bunga itu ( kalo berkenan )
Tiba masanya saat merah tak lagi merah
Lu tau maknanya dan mengerti maksud gw si tuan kata
Hehe
Plis jangan di balikin lagi
Karena pemberian orang itu perumpamaan dia
( 1 april 2011, 00:08:54 )
- Kan kusimpan hingga layu
Biarkan bunga ini mongering hingga misteri ini tumbuh
Bersama putik yang lepas dari kelopaknya
Suatu haari nanti
( 4 april 2011, 21:35:15 )
- Tanks for support
I have care you forever
I will be good boy
Silent everytime if I meet you
Cpz I don’t know what I must do for you
Every timealways false until you don’t speak to me
( 8 april 2011, 17:49:46 )
- Hahaha, its funny
Tanks for it
You give smile for me
( 8 april 2011, 18:20:29 )
- Selamat pagi yang mentari yang redup
Sinarmu dingin tak seperti biasanya
( 12 april 2011, 09:07:46 )
Langganan:
Postingan (Atom)



